Kita Tidak Pernah Benar-Benar Sendirian Lagi, dan Mungkin Itu Masalahnya
| Image created with AI |
Ponsel bergetar di atas meja makan.
Seseorang meliriknya.
Hanya satu detik.
Ia sedang makan bersama keluarganya, tetapi tangannya tetap meraih ponsel. Sebuah pesan masuk. Tidak terlalu penting. Hanya seseorang yang bertanya sesuatu yang sebenarnya bisa dijawab nanti.
Ia membalas.
Beberapa menit kemudian, ponsel bergetar lagi.
Kali ini notifikasi dari media sosial.
Ia membukanya.
Ada seseorang yang menyukai unggahannya.
Kemudian muncul video baru.
Ia menonton satu.
Lalu satu lagi.
Ketika akhirnya meletakkan ponsel, percakapan di meja sudah berpindah ke topik lain.
Seseorang di depannya baru saja mengatakan sesuatu yang mungkin sebenarnya penting.
Tetapi ia melewatkannya.
Bukan karena tidak peduli.
Ia hanya sedang berada di tempat lain.
Padahal tubuhnya masih duduk di sana.
Hal seperti ini mungkin terlihat terlalu kecil untuk dipermasalahkan.
Tetapi bayangkan jika terjadi setiap hari.
Satu percakapan yang terpotong.
Satu makan malam yang terganggu.
Satu halaman buku yang tidak selesai.
Satu ide yang hilang.
Satu menit yang berubah menjadi sepuluh menit.
Lalu sepuluh menit menjadi satu jam.
Tidak ada satu kejadian besar yang menghancurkan perhatian kita.
Yang terjadi justru jauh lebih halus.
Perhatian kita diambil sedikit demi sedikit.
Dan yang mengambilnya sering kali bukan sesuatu yang kita benci.
Justru sesuatu yang kita tunggu.
Notifikasi.
Pesan.
Komentar.
Berita.
Pemberitahuan.
Respons.
Kita hidup dalam keadaan selalu menunggu sesuatu terjadi
Coba perhatikan apa yang terjadi ketika ponsel berada di dekat kita.
Kita tidak harus sedang menggunakannya.
Kita hanya tahu bahwa ia ada.
Kemudian terdengar bunyi kecil.
Atau layar menyala.
Atau terasa getaran.
Dalam sepersekian detik, perhatian kita berpindah.
Siapa yang mengirim?
Apa isinya?
Apakah penting?
Apakah ada sesuatu yang perlu saya lakukan?
Bahkan ketika ternyata tidak ada sesuatu yang penting, perhatian kita sudah terlanjur pergi.
Ini yang membuat kehidupan digital berbeda dari gangguan biasa.
Gangguan dulu mungkin datang dari luar.
Sekarang kita membawa sumber gangguan itu sendiri ke mana-mana.
Di kamar.
Di kantor.
Di kendaraan.
Di tempat tidur.
Bahkan ke meja makan.
Kita tidak lagi harus pergi mencari informasi.
Informasi datang mencari kita.
Dan karena kita tidak pernah tahu kapan sesuatu akan muncul, sebagian dari pikiran kita seolah-olah selalu dalam keadaan berjaga.
Notifikasi bukan sekadar pemberitahuan
Secara sederhana, notifikasi seharusnya hanya memberi tahu bahwa sesuatu terjadi.
Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, notifikasi bisa memiliki efek yang lebih besar.
Ia menciptakan rasa penasaran.
Sebuah getaran kecil bisa menimbulkan pertanyaan sebelum kita bahkan melihat layar.
Siapa?
Kenapa?
Ada apa?
Seseorang membalas pesan?
Ada komentar?
Ada berita baru?
Ada sesuatu yang terjadi?
Rasa penasaran itulah yang membuat kita ingin memeriksa.
Dan ketika kita memeriksa, kita sering menemukan hal lain.
Satu pesan membawa kita ke aplikasi.
Aplikasi membawa kita ke beranda.
Beranda membawa kita ke video.
Video membawa kita ke video berikutnya.
Awalnya kita hanya ingin melihat satu pemberitahuan.
Beberapa menit kemudian kita bahkan sudah lupa mengapa ponsel tadi diambil.
Ini bukan semata-mata persoalan kurang disiplin.
Banyak layanan digital memang dirancang agar kita terus kembali.
Semakin lama perhatian kita bertahan, semakin banyak aktivitas yang bisa terjadi di dalam platform.
Karena itu, menjaga perhatian di zaman sekarang bukan hanya persoalan kemauan pribadi.
Kita juga hidup di tengah sistem yang terus berlomba mendapatkan perhatian kita.
Yang berubah bukan hanya waktu kita, tetapi cara kita mengalami waktu
Ada perbedaan antara kehilangan satu jam dan kehilangan satu jam dalam potongan-potongan kecil.
Kalau kita sengaja duduk selama satu jam membaca buku, kita sadar bahwa satu jam telah berlalu.
Kita tahu ke mana waktu itu pergi.
Tetapi kalau satu jam tersebut terpecah menjadi puluhan pemeriksaan ponsel, beberapa pesan, beberapa video, beberapa berita, dan beberapa notifikasi, kita sering tidak merasa telah menghabiskan satu jam.
Waktunya seperti menguap.
Karena tidak ada satu aktivitas yang terasa cukup besar untuk disebut sebagai pemborosan.
Inilah yang membuatnya sulit disadari.
Kita tidak merasa sedang membuang waktu.
Kita hanya “sebentar melihat”.
Masalahnya, kehidupan juga terdiri dari “sebentar” yang jumlahnya sangat banyak.
Dan sesuatu yang dilakukan sebentar, jika dilakukan puluhan kali dalam sehari, akhirnya menjadi bagian besar dari hidup.
Validasi membuat kita bukan hanya ingin melihat, tetapi ingin kembali
Ada alasan lain mengapa ponsel sulit ditinggalkan.
Bukan hanya karena kita ingin mengetahui sesuatu.
Kadang kita ingin mengetahui apa yang orang lain pikirkan tentang kita.
Kita mengunggah sesuatu.
Kemudian menunggu.
Apakah ada yang menyukai?
Siapa yang melihat?
Ada komentar?
Ada yang membalas?
Semakin banyak respons, semakin besar rasa senang.
Ketika tidak ada respons, kita mungkin memeriksa lagi.
Kemudian lagi.
Dan tanpa sadar, perhatian kita tidak lagi hanya tertuju pada apa yang kita lakukan.
Kita mulai memperhatikan bagaimana orang lain merespons apa yang kita lakukan.
Ini perubahan kecil tetapi penting.
Kita tidak hanya menjalani pengalaman.
Kita juga mengawasi reaksi terhadap pengalaman tersebut.
Makan di tempat bagus bukan hanya soal menikmati makanan.
Ada keinginan untuk membagikannya.
Mencapai sesuatu bukan hanya soal pencapaian.
Ada keinginan untuk mengumumkannya.
Membuat sesuatu bukan hanya soal membuat.
Ada keinginan untuk melihat apakah orang lain menyukainya.
Tidak selalu salah.
Manusia memang makhluk sosial dan wajar jika membutuhkan pengakuan.
Tetapi ketika validasi menjadi terlalu penting, pengalaman pribadi bisa berubah menjadi semacam pertunjukan yang menunggu penonton.
Kita mulai sulit menikmati sesuatu yang tidak memberikan respons
Coba perhatikan hal-hal yang kita lakukan tanpa mendapatkan umpan balik.
Membaca buku sendirian.
Berjalan tanpa memotret.
Belajar sesuatu yang tidak langsung menghasilkan uang.
Mengerjakan pekerjaan rumah.
Duduk diam.
Mendengarkan musik tanpa melakukan hal lain.
Tidak ada angka yang muncul.
Tidak ada jumlah suka.
Tidak ada komentar.
Tidak ada notifikasi yang mengatakan bahwa kita melakukan sesuatu dengan baik.
Akibatnya, aktivitas seperti itu bisa terasa kurang menarik dibandingkan aktivitas digital yang terus memberikan respons.
Di internet, hampir setiap tindakan mempunyai umpan balik.
Klik.
Suka.
Komentar.
Jumlah tayangan.
Pesan masuk.
Angka-angka tersebut membuat kita merasa bahwa sesuatu sedang terjadi.
Sementara kehidupan nyata sering kali tidak memberikan tanda apa pun.
Kita membaca buku selama satu jam.
Tidak ada notifikasi.
Tetapi mungkin cara berpikir kita berubah sedikit.
Kita menghabiskan waktu bersama orang tua.
Tidak ada angka yang bertambah.
Tetapi hubungan mungkin menjadi lebih dekat.
Kita tidur lebih awal.
Tidak ada yang memberi penghargaan.
Tetapi tubuh kita mungkin berterima kasih keesokan harinya.
Banyak hal paling penting dalam kehidupan justru tidak memberikan respons secara langsung.
Kita perlu belajar hidup tanpa selalu mendapatkan tanda bahwa kita sedang melakukan sesuatu
Ini mungkin menjadi salah satu kemampuan yang semakin penting.
Mampu melakukan sesuatu tanpa langsung mendapatkan penghargaan.
Mampu menunggu.
Mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa terus memeriksa apakah ada orang yang menyukainya.
Mampu membuat sesuatu tanpa langsung membagikannya.
Mampu menikmati waktu tanpa harus mengubahnya menjadi konten.
Mampu duduk dalam keheningan tanpa merasa ada sesuatu yang salah.
Kemampuan seperti ini terlihat sederhana.
Tetapi semakin banyak bagian kehidupan memberikan respons instan, semakin asing rasanya melakukan sesuatu yang hasilnya tidak langsung terlihat.
Padahal sebagian besar hal yang bernilai memang bekerja seperti itu.
Belajar membutuhkan waktu.
Hubungan membutuhkan waktu.
Karier membutuhkan waktu.
Kesehatan membutuhkan waktu.
Kepercayaan membutuhkan waktu.
Kematangan berpikir membutuhkan waktu.
Tidak ada tombol “suka” yang bisa mempercepat semuanya.
Ada bagian kehidupan yang hanya bisa ditemukan ketika perhatian kita tidak sedang diperebutkan
Pernahkah sebuah ide muncul ketika sedang mandi?
Atau ketika sedang berjalan?
Atau ketika sedang duduk sendirian?
Atau ketika tidak melakukan apa-apa?
Hal seperti itu sering terjadi karena pikiran membutuhkan ruang.
Ketika perhatian kita terus dipenuhi sesuatu, tidak banyak ruang yang tersisa untuk pikiran bergerak tanpa arah.
Padahal banyak gagasan muncul justru ketika kita tidak sedang mencarinya.
Kita menghubungkan sesuatu yang pernah dibaca dengan pengalaman beberapa tahun lalu.
Mengingat sebuah percakapan.
Menyadari kesalahan.
Mendapat ide.
Memahami perasaan sendiri.
Semua itu membutuhkan jeda.
Dan jeda semakin sulit ditemukan ketika setiap beberapa menit ada sesuatu yang memanggil kita kembali ke layar.
Mungkin karena itu, rasa bosan yang dulu kita hindari sebenarnya mempunyai fungsi.
Bosan memberikan ruang.
Kesunyian memberikan ruang.
Tidak melakukan apa-apa memberikan ruang.
Dan ruang itulah yang sering kita isi terlalu cepat.
Kita tidak harus membuang ponsel
Solusinya bukan menjadi orang yang membenci teknologi.
Ponsel sudah menjadi bagian penting dari kehidupan modern.
Kita membutuhkannya untuk bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, belajar, melakukan transaksi, dan banyak hal lain.
Masalahnya bukan perangkatnya.
Masalahnya adalah ketika perangkat selalu mendapatkan akses terhadap perhatian kita.
Ada perbedaan antara menggunakan ponsel dan selalu tersedia untuk ponsel.
Kita bisa memilih kapan membuka pesan.
Kita bisa mematikan notifikasi yang tidak penting.
Kita bisa menyimpan ponsel ketika makan.
Kita bisa memberikan beberapa menit tanpa layar sebelum tidur.
Kita bisa membaca tanpa berpindah aplikasi.
Kita bisa berjalan tanpa merasa harus mengisi setiap keheningan.
Hal-hal itu terlihat kecil.
Tetapi perhatian juga hilang melalui hal-hal kecil.
Karena itu, perhatian mungkin juga perlu dijaga melalui hal-hal kecil.
Yang paling mahal dari notifikasi bukan waktu yang diambil
Satu notifikasi mungkin hanya mengambil beberapa detik.
Tetapi biaya sebenarnya mungkin bukan beberapa detik itu.
Biayanya adalah perpindahan perhatian.
Ketika kita sedang membaca dan berhenti untuk memeriksa pesan, kita mungkin membutuhkan waktu untuk kembali masuk ke dalam bacaan.
Ketika sedang berbicara dan melihat layar, kita kehilangan sebagian percakapan.
Ketika sedang mengerjakan sesuatu dan terganggu, kita harus mengumpulkan kembali pikiran yang sebelumnya sudah berada di sana.
Semakin sering terjadi, semakin terfragmentasi hari kita.
Kita memang masih melakukan banyak hal.
Tetapi semakin jarang melakukannya dengan perhatian penuh.
Dan mungkin inilah salah satu masalah kehidupan modern yang paling sulit terlihat.
Kita tidak kekurangan aktivitas.
Kita kekurangan kehadiran.
Ada perbedaan antara mengetahui banyak hal dan mengalami sesuatu dengan utuh
Kita bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di banyak tempat.
Kita bisa melihat kehidupan puluhan orang dalam satu hari.
Kita bisa membaca berita dari berbagai negara.
Kita bisa mengetahui pendapat orang tentang hampir semua hal.
Tetapi mengetahui banyak hal tidak selalu berarti mengalami hidup dengan lebih dalam.
Kadang justru sebaliknya.
Kita berpindah terlalu cepat dari satu hal ke hal lain sampai tidak ada yang benar-benar tinggal cukup lama di dalam pikiran.
Sebuah berita muncul.
Kita membaca.
Kemudian lupa.
Sebuah video membuat kita tertawa.
Beberapa menit kemudian hilang.
Seseorang mengunggah pencapaian.
Kita melihat.
Kemudian berpindah.
Hari dipenuhi banyak hal, tetapi sedikit yang benar-benar menetap.
Mungkin kehidupan yang baik bukan kehidupan yang memiliki paling banyak pengalaman dalam satu hari.
Mungkin kehidupan yang baik adalah kehidupan yang memberi kita cukup perhatian untuk benar-benar mengalami beberapa hal dengan utuh.
Pada akhirnya, perhatian adalah cara kita memberikan kehidupan kepada sesuatu
Kita sering menganggap perhatian sebagai sesuatu yang abstrak.
Padahal perhatian sangat konkret.
Ketika kita memberikan perhatian kepada seseorang, kita memberikan sebagian dari hidup kita kepadanya.
Ketika kita membaca sebuah buku dengan serius, kita memberikan waktu dan pikiran kita kepada gagasan di dalamnya.
Ketika kita mendengarkan anak berbicara, kita memberikan bagian dari hidup kita untuk memahami dunianya.
Ketika kita bekerja dengan sungguh-sungguh, kita memberikan energi kita kepada sesuatu yang ingin kita selesaikan.
Karena itu, perhatian bukan sekadar kemampuan untuk fokus.
Perhatian adalah cara kita memilih apa yang layak mendapatkan bagian dari hidup kita.
Dan kalau begitu, mungkin kita perlu lebih berhati-hati kepada siapa atau apa kita memberikannya.
Tidak semua notifikasi layak mendapatkan perhatian.
Tidak semua pesan harus segera dibalas.
Tidak semua unggahan perlu dilihat.
Tidak semua pendapat perlu diketahui.
Tidak semua hal yang baru muncul di layar perlu masuk ke dalam pikiran kita.
Kita tidak mungkin mengontrol semua yang terjadi di dunia.
Tetapi kita masih bisa menentukan apa yang kita izinkan masuk terlalu jauh ke dalam hari kita.
Karena pada akhirnya, hidup kita tidak hanya dibentuk oleh apa yang kita lakukan.
Ia juga dibentuk oleh apa yang terus-menerus mendapatkan perhatian kita.
Dan mungkin suatu hari nanti, ketika kita melihat kembali tahun-tahun yang sudah lewat, kita tidak akan bertanya berapa banyak notifikasi yang pernah kita buka.
Kita akan lebih mungkin mengingat percakapan yang benar-benar kita dengarkan, buku yang benar-benar kita baca, orang yang benar-benar kita temui, dan momen-momen ketika kita hadir sepenuhnya tanpa merasa harus memeriksa sesuatu.
Sebab waktu mungkin memang tidak bisa kita hentikan.
Tetapi perhatian masih bisa kita pilih.
Dan setiap kali kita memilih ke mana perhatian kita pergi, sebenarnya kita sedang memilih bagian mana dari kehidupan kita yang ingin benar-benar kita jalani.
Post a Comment