Kita Terlalu Sibuk Menjadi Seseorang Sampai Lupa Menjadi Diri Sendiri
| Image created with AI |
Pagi-pagi sekali, sebelum benar-benar bangun dari tempat tidur, tangan kita sudah mencari ponsel.
Bukan karena ada sesuatu yang penting.
Hanya ingin melihat sebentar.
Satu video. Dua pesan. Beberapa unggahan. Sedikit berita. Lalu tanpa terasa, dua puluh menit sudah berlalu.
Kita melihat kehidupan orang lain sebelum sempat memikirkan kehidupan sendiri.
Ada yang baru mendapatkan pekerjaan.
Ada yang sedang liburan.
Ada yang membeli rumah.
Ada yang menikah.
Ada yang memulai bisnis.
Ada yang terlihat begitu bahagia.
Kemudian kita meletakkan ponsel dan mulai menjalani hari.
Tidak ada yang berubah secara langsung.
Tetapi entah mengapa, kehidupan sendiri terasa sedikit lebih biasa daripada beberapa menit sebelumnya.
Di sinilah sesuatu yang menarik terjadi.
Kita tidak selalu merasa kurang karena hidup kita buruk. Kadang kita merasa kurang karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain.
Kita hidup di zaman ketika semua orang bisa menunjukkan dirinya
Dulu, kita mengenal kehidupan orang lain melalui percakapan.
Sekarang kita bisa melihatnya setiap hari.
Bahkan tanpa diminta.
Ponsel membawa kehidupan orang lain masuk ke ruang pribadi kita. Di kamar. Di meja makan. Saat sedang bekerja. Ketika sedang menunggu. Bahkan beberapa menit sebelum tidur.
Kita melihat pencapaian orang lain dalam jumlah yang jauh lebih besar daripada yang pernah bisa dilakukan generasi sebelumnya.
Masalahnya bukan bahwa kehidupan mereka terlihat.
Masalahnya adalah kita melihat hasil akhirnya, sementara kita menjalani proses kehidupan kita sendiri.
Kita melihat seseorang mendapatkan promosi.
Kita tidak melihat tahun-tahun ketika ia gagal.
Kita melihat seseorang bepergian ke tempat indah.
Kita tidak melihat berapa banyak hari biasa yang ia jalani sebelum perjalanan itu.
Kita melihat rumah yang bagus.
Kita tidak melihat seluruh perjuangan finansial di belakangnya.
Kita melihat senyum.
Kita tidak melihat apa yang terjadi setelah kamera dimatikan.
Namun otak kita sering membandingkan semuanya seolah-olah yang kita lihat adalah gambaran lengkap.
Padahal tidak.
Kita membandingkan kehidupan yang nyata dengan kehidupan yang sudah diedit
Inilah salah satu hal paling aneh dari kehidupan digital.
Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam melihat potongan kehidupan orang lain yang sudah dipilih dengan hati-hati.
Foto terbaik.
Sudut terbaik.
Hari terbaik.
Pencapaian terbaik.
Kalimat terbaik.
Kemudian kita membandingkannya dengan kehidupan kita yang penuh dengan hal-hal yang tidak pernah masuk kamera.
Hari ketika kita merasa gagal.
Pekerjaan yang berantakan.
Rumah yang belum dibereskan.
Uang yang harus dihemat.
Hubungan yang sedang tidak baik.
Rencana yang belum berhasil.
Keraguan yang tidak pernah kita ceritakan kepada siapa pun.
Perbandingan itu sejak awal sudah tidak seimbang.
Tetapi karena dilakukan setiap hari, kita mulai menganggapnya normal.
Lama-lama muncul perasaan bahwa semua orang sedang bergerak maju kecuali kita.
Padahal mungkin kita hanya sedang melihat kehidupan mereka dari sudut yang berbeda.
Yang lebih berbahaya adalah ketika kita mulai hidup untuk dilihat
Awalnya kita menggunakan media sosial untuk berbagi sesuatu yang kita alami.
Lalu perlahan arah hubungan itu bisa berubah.
Kita melakukan sesuatu dan mulai memikirkan bagaimana hasilnya akan terlihat.
Makan di tempat tertentu terasa lebih menarik ketika makanannya bagus untuk difoto.
Pergi ke suatu tempat terasa lebih berkesan ketika ada sesuatu yang bisa diunggah.
Membeli sesuatu terasa lebih menyenangkan ketika orang lain mengetahuinya.
Bahkan pencapaian pribadi bisa terasa kurang lengkap ketika tidak mendapatkan respons dari orang lain.
Tanpa sadar, pengalaman yang seharusnya menjadi milik kita mulai memiliki penonton.
Kita tidak hanya menjalani sesuatu.
Kita juga membayangkan bagaimana sesuatu itu akan terlihat dari luar.
Dan semakin sering terjadi, semakin sulit membedakan antara “Saya memang menginginkan ini” dan “Saya ingin terlihat seperti orang yang memiliki ini.”
Perbedaannya sangat kecil.
Tetapi dampaknya bisa besar.
Kita bisa mengejar kehidupan yang sebenarnya tidak pernah kita inginkan
Bayangkan seseorang yang selama bertahun-tahun mengejar rumah besar.
Ia bekerja lebih keras.
Mengambil pekerjaan tambahan.
Menabung.
Mengurangi banyak hal.
Akhirnya ia mendapatkan rumah yang diinginkan.
Semua orang menganggapnya berhasil.
Tetapi ketika semuanya selesai, ia menyadari bahwa sebenarnya ia tidak terlalu membutuhkan rumah sebesar itu.
Ia hanya tumbuh dengan keyakinan bahwa rumah besar adalah tanda keberhasilan.
Dari mana keyakinan itu berasal?
Keluarga.
Lingkungan.
Iklan.
Media.
Teman.
Dan sekarang, algoritma.
Kita menerima begitu banyak gambaran tentang kehidupan yang dianggap ideal sampai sulit mengetahui mana yang benar-benar berasal dari keinginan kita sendiri.
Kita mungkin ingin pekerjaan bergengsi karena pekerjaan itu memang cocok dengan kita.
Tetapi bisa juga karena kita ingin dihormati.
Kita mungkin ingin menjadi terkenal karena memiliki sesuatu yang ingin dibagikan.
Tetapi bisa juga karena kita ingin merasa berharga.
Kita mungkin ingin kaya karena menginginkan kebebasan.
Tetapi bisa juga karena kita takut dianggap gagal.
Keinginan-keinginan seperti ini terlihat hampir sama dari luar.
Hanya kita yang bisa membedakannya.
Dunia digital membuat suara orang lain semakin keras
Dulu, ketika seseorang tidak menyukai pilihan hidup kita, pengaruhnya mungkin terbatas pada lingkungan sekitar.
Sekarang kita bisa mendapatkan ribuan opini setiap hari.
Orang asing memberi tahu kita bagaimana seharusnya bekerja.
Bagaimana seharusnya berpakaian.
Bagaimana seharusnya makan.
Bagaimana seharusnya mengatur uang.
Bagaimana seharusnya membesarkan anak.
Bagaimana seharusnya membangun karier.
Bagaimana seharusnya menjalani hidup.
Sebagian informasi itu berguna.
Tetapi terlalu banyak suara juga memiliki konsekuensi.
Kita mulai kehilangan kemampuan mendengar suara sendiri.
Bukan karena suara itu hilang.
Tetapi karena terlalu banyak suara lain yang berbicara lebih keras.
Ada perbedaan antara belajar dari orang lain dan hidup menurut standar orang lain
Kita tentu membutuhkan orang lain.
Tidak ada manusia yang hidup sepenuhnya tanpa pengaruh dari lingkungan.
Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Kita bisa menemukan inspirasi. Kita bisa mengetahui cara baru melakukan sesuatu.
Itu semua hal yang baik.
Tetapi inspirasi seharusnya membantu kita menemukan jalan sendiri, bukan membuat kita merasa wajib mengikuti jalan orang lain.
Kita boleh melihat seseorang sukses dan berpikir, “Saya juga ingin berkembang.”
Tetapi kita juga perlu bertanya:
“Apakah bentuk kesuksesan yang saya inginkan memang sama?”
Seseorang mungkin menginginkan bisnis besar.
Orang lain mungkin hanya ingin pekerjaan yang cukup untuk membiayai kehidupan sederhana.
Seseorang mungkin ingin tinggal di kota besar.
Orang lain mungkin justru ingin hidup jauh dari keramaian.
Seseorang mungkin mengejar jabatan.
Orang lain mungkin mengejar waktu.
Tidak ada satu bentuk kehidupan yang cocok untuk semua orang.
Masalahnya, dunia digital sering membuat seolah-olah hanya ada satu ukuran keberhasilan.
Semakin besar.
Semakin cepat.
Semakin banyak.
Semakin terlihat.
Padahal kehidupan manusia jauh lebih beragam daripada itu.
Kita perlu ruang yang tidak diketahui siapa-siapa
Ada sesuatu yang semakin langka hari ini:
melakukan sesuatu yang tidak perlu dibagikan.
Membaca buku dan tidak memotretnya.
Pergi berjalan-jalan dan tidak mengunggah lokasinya.
Membeli sesuatu tanpa menunjukkan kepada siapa pun.
Mencapai sesuatu tanpa langsung mengumumkannya.
Menghabiskan waktu bersama seseorang tanpa mengambil foto.
Memiliki pemikiran yang hanya kita simpan sendiri.
Tidak semua hal harus menjadi konten.
Tidak semua pengalaman membutuhkan penonton.
Ada bagian dari kehidupan yang justru menjadi lebih bermakna karena hanya kita yang mengetahuinya.
Ketika seluruh kehidupan selalu dipikirkan sebagai sesuatu yang bisa dilihat orang lain, kita perlahan kehilangan ruang pribadi di dalam diri sendiri.
Dan manusia membutuhkan ruang itu.
Bukan untuk menyembunyikan sesuatu.
Tetapi untuk mendengar dirinya sendiri.
Mungkin kita perlu belajar kembali merasa cukup tanpa penonton
Ini bukan berarti kita harus menghapus media sosial.
Bukan juga berarti kehidupan digital selalu buruk.
Teknologi memungkinkan kita menemukan orang yang sebelumnya tidak mungkin kita kenal. Kita bisa belajar dari berbagai tempat. Bisa berbagi karya. Bisa membangun hubungan. Bisa menemukan komunitas yang sesuai dengan minat kita.
Masalahnya muncul ketika penilaian terhadap kehidupan kita terlalu bergantung pada respons dari luar.
Berapa banyak yang menyukai.
Berapa banyak yang melihat.
Berapa banyak yang mengikuti.
Berapa banyak yang memuji.
Angka-angka itu mudah dilihat.
Karena mudah dilihat, kita mudah menjadikannya ukuran.
Padahal tidak semua hal yang penting bisa dihitung.
Tidak ada angka untuk ketenangan.
Tidak ada jumlah pengikut untuk hubungan yang sehat.
Tidak ada tombol suka untuk rasa puas ketika kita tahu bahwa kita sedang menjalani kehidupan yang memang kita pilih sendiri.
Ada saatnya kita perlu bertanya: “Kalau tidak ada yang melihat, apakah saya masih menginginkan ini?”
Pertanyaan ini sederhana, tetapi cukup mengganggu.
Kalau tidak ada yang tahu pekerjaan kita, apakah kita masih menginginkannya?
Kalau tidak ada yang melihat rumah kita, apakah kita masih ingin rumah sebesar itu?
Kalau tidak ada yang bisa memuji pencapaian kita, apakah pencapaian tersebut masih penting?
Kalau perjalanan itu tidak bisa difoto, apakah kita masih ingin pergi?
Kalau tidak ada yang tahu kita sedang belajar sesuatu, apakah kita masih mau belajar?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu mungkin menunjukkan sesuatu tentang keinginan kita yang sebenarnya.
Tidak semua keinginan yang membutuhkan penonton adalah palsu.
Tetapi semakin banyak hal yang hanya terasa berharga ketika dilihat orang lain, semakin layak kita memeriksanya.
Sebab hidup kita terlalu berharga untuk sepenuhnya dibangun sebagai pertunjukan.
Kita tidak perlu berhenti melihat dunia
Yang perlu kita lakukan adalah memastikan bahwa dunia yang kita lihat tidak sepenuhnya menentukan dunia yang ingin kita jalani.
Kita boleh terinspirasi.
Boleh belajar.
Boleh mengikuti perkembangan.
Boleh menikmati keberhasilan orang lain.
Tetapi sesekali, kita perlu keluar dari layar dan bertanya kepada diri sendiri:
Apa sebenarnya yang saya inginkan?
Apa yang membuat saya merasa hidup?
Hal apa yang ingin saya pertahankan meskipun tidak ada yang memuji?
Apa yang akan saya pilih jika tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun?
Pertanyaan seperti itu mungkin tidak langsung menghasilkan jawaban.
Tidak apa-apa.
Justru mungkin kita memang membutuhkan sedikit waktu tanpa jawaban.
Karena setelah bertahun-tahun mendengar begitu banyak suara dari luar, kita mungkin perlu belajar mendengar suara yang paling lama kita abaikan.
Suara diri sendiri.
Pada akhirnya, hidup kita tetap milik kita
Dunia akan selalu mempunyai standar baru.
Selalu ada orang yang lebih kaya.
Lebih sukses.
Lebih menarik.
Lebih produktif.
Lebih terkenal.
Lebih cepat.
Jika kita menjadikan semua itu sebagai ukuran, tidak akan pernah ada titik ketika kita benar-benar selesai.
Selalu ada seseorang yang berada lebih jauh.
Karena itu, mungkin salah satu bentuk kebebasan terbesar adalah berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai penggaris untuk mengukur kehidupan sendiri.
Bukan berarti kita berhenti berkembang.
Kita tetap belajar.
Tetap bekerja.
Tetap mempunyai impian.
Tetap ingin menjadi lebih baik.
Tetapi kita mulai memilih berdasarkan apa yang benar-benar kita anggap penting.
Bukan semata-mata berdasarkan apa yang terlihat bagus dari luar.
Sebab ada kehidupan yang sangat indah tetapi tidak pernah masuk media sosial.
Ada keberhasilan yang tidak pernah dirayakan oleh siapa pun.
Ada hubungan yang tidak pernah difoto.
Ada pekerjaan yang tidak terlihat bergengsi tetapi membuat seseorang pulang dengan perasaan tenang.
Dan ada orang-orang yang mungkin tidak terlihat sukses menurut ukuran dunia, tetapi ketika malam tiba, mereka bisa tidur dengan perasaan bahwa kehidupan yang mereka jalani memang milik mereka sendiri.
Mungkin itulah yang paling kita butuhkan di tengah dunia yang semakin ramai.
Bukan menjadi seseorang yang dikagumi semua orang.
Bukan memiliki kehidupan yang terlihat sempurna.
Bukan memenangkan perlombaan yang bahkan tidak pernah kita pilih.
Melainkan memiliki keberanian untuk berhenti sejenak, mematikan suara dari luar, lalu bertanya dengan jujur:
“Kalau tidak ada seorang pun yang melihat hidup saya, kehidupan seperti apa yang sebenarnya ingin saya jalani?”
Mungkin jawabannya tidak akan membuat kita terlihat hebat.
Tetapi mungkin, untuk pertama kalinya, jawaban itu benar-benar milik kita.
Post a Comment